Our new best friend called : Infertility

Sahabatan 9 tahun, pacaran 5,5 tahun, menikah 2,5 tahun, baru akhirnya kita menyadari bahwa ga memungkinkan untuk kita bisa punya keturunan dengan cara natural seperti kebanyakan pasangan pada umumnya. Bikin lemes ? Pada waktu itu, Iya.

Sebenernya rasanya awkward sih untuk share soal infertilitas begini, saya ngerti banget kenapa kebanyakan pasangan yang punya masalah fertilitas memilih untuk menyimpan nya dengan diri sendiri aja. Pandangan orang, stigma, tingkat ke-kepo-an masyarakat, itu kadang bikin ngeper duluan sebelum cerita. Kita berdua pun dulu memilih menyimpan cerita-cerita itu rapat-rapat, apalagi ditambah bumbu budaya komentar orang-orang di kota kecil yang kesana kesini kenal dan suka gosip. Tapi baiklah, mari sekarang kita coba beranikan diri untuk membahas topik ini.

19 September 2015, the best day of my life

It was Januay 2017, when we first saw our Obgyn after 15 months of marriage and yet no sign of pregnancy. Saat itu kita bukan nya panik dan pengen sekarang banget harus hamil gitu ya, tapi ga ada salahnya ya kayanya kalo coba konsultasi. Setelah itu masing-masing dari kita di tes, dan ternyata hasil nya ga bagus.

Rahim saya memang bersih tanpa miom, kista, penyumbatan tuba falopi, endometriosis, PCOS, dll. Setelah itu diketahui bahwa arah rahim saya ke belakang (retroverted) dan pada tahap pembuahan telur secara ICSI di siklus IVF, ternyata cangkang telur saya keras sehingga sulit untuk ditembus, bahkan untuk sperma normal sekalipun.

Sedangkan Valdi, sejak pemeriksaan awal Valdi di diagnosa Oligoasthenozoospermia, intinya : jumlah, bentuk, dan pergerakan sperma nya rendah. Program kalender, natural, maupun inseminasi buatan tidak memungkinkan, bahkan setelah tindakan operasi koreksi Varikokel nya Valdi. Sehingga solusi yang ditawarkan beberapa dokter yang ditawarkan oleh beberapa dokter yang kita temui adalah IVF (bayi tabung)

It was a melancholy and depressing era of our marriage. I remember right after the first test result, we drove around the city, crying, not really know where to go, just because we didn’t think that going home seeing our sister with that kind of news is something we can bear. I remember asking why universe is not on our side. It was the first time i ever saw my usually strong husband got beaten so bad, cried so heartbreakingly loud, while he felt like his manhood ripped apart and I didn’t know what I could do to help.

Sejak itu kita berdua mencoba berteman dengan infertilitas, layaknya orang baru kenalan, kita banyak melakukan google search tentang infertilitas, baca-baca, cari tahu, dan belajar dari pengalaman orang lain. Lalu sambil tetap merahasiakan kondisi kita dari keluarga, kita mulai ke Obgyn, Spesialis Urologi (hingga akhirnya mencoba operasi Varikokel), Spesialis Andrologi, hingga akhirnya ke klinik Infertilitas. Dulu rasanya ngebayangin IVF itu kaya halu banget deh, karena di kota tempat tinggal kita belum bisa IVF berarti kita harus bolak-balik ke luar kota dan ninggalin kerjaan untuk waktu yang panjang. Belum lagi soal uang sebesar itu yang kita pun belum punya.

Percayalah, kalo di pernikahan kalian perdebatan tentang uang itu dikarenakan suami hobi beli action figure, atau istri maunya beli tas branded, berarti seharusnya bersyukurlah kalian !
Karena sesungguhnya merasakan yang namanya kepingin banget punya anak, tapi harus ngumpulin uangnya dulu sampai segunung, sambil nontonin teman/saudara wara wiri dengan perut blendung atau bayi nya yang didapat dengan biaya 0 rupiah itu : Miris.

FYI, biaya bayi tabung di rumah sakit swasta di Jakarta itu berkisar Rp. 100-150an juta. Di Penang katanya 70an juta. Itu belum nett yah, masih belum termasuk biaya hidup, makan sehat, transport, kadang obat2an, tes lab, vitamin, akupuntur, dan masih banyak biaya penunjang lain nya. Dan tidak pernah ada jaminan pasti berhasil dengan cukup 1 siklus IVF saja loh ya.

“Oh cuma segitu, kalo dibanding dengan betapa berharga nya anak, itu mah ga seberapa lah!”

Iya pak, tapi ketika kenyataannya nanti di kasir rumah sakit kan ditagihnya pakai Rupiah, bukan pakai perbandingan harga diri anak kita nanti.

Tapi intinya kita gamau terlarut keterusan jadi orang yang pahit. Yes, tentunya ada masa-masa sedih pusing capek berdebat kecewa marah. Tapi hanya dengan belajar ikhlas menerima keadaan, kita bisa bangkit dan percaya bahwa semua pasti ada jalannya. Tuhan ga akan meletakan kita di posisi ini, hanya untuk meninggalkan kita disini. Pasti ada jalan-Nya.

Kita berdua sama sekali ga pernah menyesel menikahi satu sama lain, bahkan saya pribadi semakin bersyukur, karena saya yakin kalo pernikahan kita bisa melalui dan melewati perjuangan mengatasi infertilitas ini, kita pasti bisa melewati apapun.

Dan dengan ini dimulailah petualangan IVF kita. Ciao !

Cheers,
Ayu

Leave a Reply